4  UTS-4 My SHAPE (Spiritual Gifts, Heart, Abilities, Personality, Experiences)

Tujuan: Untuk memahami diri sendiri secara lebih jujur, mengenali kekuatan, kelemahan, dan nilai yang benar-benar saya pegang dalam hidup. Melalui refleksi ini, saya ingin tahu di mana saya bisa memberi dampak paling nyata, baik di kampus, keluarga, maupun lingkar sosial kecil saya. Saya ingin belajar menerima proses, bukan hanya mengejar hasil. Dapat langsung ditempel ke halaman.

4.1 0) Ringkasan 1 Halaman

Peran Inti: Mahasiswa, penjelajah hidup, dan pembelajar yang sedang mencari arah. Misi: Menemukan makna dari setiap proses, meski kadang gak sesuai rencana. Belajar jadi pribadi yang sabar, kuat, dan berguna bagi orang sekitar. Kekuatan Utama: adaptif, reflektif, loyal, dan pantang menyerah. Dampak yang Dituju: bisa tumbuh bareng orang lain, saling belajar, saling nguatkan, dan bikin lingkungan kampus lebih hangat.

Peta SHAPE (singkat):

  • S — Spiritual Gifts: Kemampuan buat mendengarkan, memahami, dan nyoba ngertiin sudut pandang orang lain.
  • H — Heart (Minat & Cinta Pelayanan): Aku punya hati buat hal-hal kecil: obrolan ringan, cerita hidup, musik, dan suasana yang tulus. Aku percaya hidup itu bukan tentang jadi paling hebat, tapi tentang terus jalan walau capek.
  • A — Abilities (Kemampuan): Bisa menulis, refleksi, dan ngebangun suasana. Kadang susah mulai, tapi kalau udah jalan bisa serius banget.
  • P — Personality (Gaya Kepribadian Kerja): Introvert tapi bisa hangat kalau udah nyambung. Gak sabaran, tapi punya keinginan besar buat ngerti sesuatu sampai tuntas.
  • E — Experiences (Pengalaman Kunci): Pindah kota beberapa kali ngajarin aku kalau rumah itu bukan tempat, tapi orang-orang yang bikin lo ngerasa aman. Sekarang di Bandung, aku belajar jadi versi baru dari diriku sendiri.

4.2 1) S — Spiritual Gifts (Karunia Rohani)

  • Ketekunan: meski sering gagal, saya terbiasa untuk mencoba lagi dan lagi.
  • Empati: mudah memahami perasaan orang lain, walau tidak selalu mengekspresikannya.
  • Kejujuran: lebih suka bersikap apa adanya daripada berpura-pura. Loyalitas: Jika sudah percaya dan merasa cocok, saya akan bertahan lama dan memberi yang terbaik. —

4.3 2) H — Heart (Minat, Nilai, Kepedulian)

Saya mencintai kebebasan berpikir, musik, dan momen tenang yang bikin saya bisa merenung. Saya suka mendengarkan lagu-lagu Oasis karena liriknya sering terasa dekat dengan cara saya memandang hidup: sederhana, tapi jujur dan penuh pencarian.

Saya juga punya kebiasaan aneh tapi menenangkan — scrolling Pinterest cuma buat lihat gambar-gambar yang unik atau estetik. Kadang dari situ muncul inspirasi, entah untuk nulis atau sekadar memahami suasana hati.

Nilai utama saya adalah tetap menjadi diri sendiri, walau dunia memaksa jadi sesuatu yang lain.


4.4 3) A — Abilities (Kemampuan Andal)

Mampu belajar cepat lewat pengalaman, bukan hanya teori.

Punya kemampuan menulis reflektif — mengubah pikiran dan perasaan jadi kata-kata yang bermakna.

Cukup cepat beradaptasi di lingkungan baru, meski butuh waktu untuk nyaman.

Bisa berpikir dalam, tapi juga suka hal-hal ringan yang bisa bikin tertawa.


4.5 4) P — Personality (Gaya Kerja & Kolaborasi)

Saya seorang introvert yang lebih suka mengamati dulu sebelum ikut bicara. Saya tidak sabaran, tapi hal itu sering mendorong saya untuk menyelesaikan sesuatu lebih cepat. Saya menghargai loyalitas dan kebebasan — dua hal yang buat saya sangat penting. Dalam menghadapi masalah, saya lebih memilih mencoba dan gagal, lalu mencoba lagi, daripada berhenti.

Kadang saya bisa jadi pemeran utama dalam cerita saya sendiri, tapi di waktu lain saya juga lebih suka jadi pengamat, dan itu tidak apa-apa.


4.6 5) E — Experiences (Pengalaman Pembentuk)

Saya lahir di Surakarta tahun 2006. Hidup saya berpindah-pindah: sempat tinggal di Surabaya, lalu sekarang rumah di Tangerang, dan kini saya menempuh kuliah di Bandung di ITB, jurusan Sistem dan Teknologi Informasi (STEI-K), angkatan 2024. Saya juga bagian dari HMIF ITB sebagai anggota biasa.

Saya pernah menghabiskan setengah masa SMA untuk bermalas-malasan, tapi kemudian tersadar soal masa depan dan mulai belajar sungguh-sungguh — akhirnya bisa masuk ITB lewat SNBP. Sekarang, meski belum menemukan passion di jurusan ini, saya tetap berusaha belajar dan mencari makna di dalamnya.

Saya percaya bahwa hidup itu tentang proses, bukan hasil. Setiap kegagalan adalah cara untuk menambal diri agar lebih siap ketika kesuksesan datang.


4.7 6) Piagam Diri (Self‑Charter)

Misi Hidup: Menemukan keseimbangan antara kebebasan, tanggung jawab, dan makna hidup melalui pembelajaran dan refleksi pribadi. Nilai Inti: kejujuran, ketekunan, loyalitas, kebebasan berpikir, dan rasa ingin tahu. Peran Inti: Pembelajar, penulis, pengamat, dan pencari arti hidup yang sederhana tapi jujur. Kompas Keputusan: (1) Jujur pada diri sendiri; (2) Tidak memaksakan diri jadi orang lain; (3) Terus mencoba; (4) Belajar dari setiap kegagalan. Batasan: Tidak akan memaksakan diri jadi sesuatu yang tidak saya yakini hanya demi terlihat berhasil.


4.8 7) Narasi 90 Detik (Elevator Pitch)

Saya Kyan Saktya Diraya, mahasiswa Sistem dan Teknologi Informasi ITB. Saya bukan orang yang langsung tahu apa yang saya mau tapi saya terus mencari. Saya belajar bahwa hidup bukan soal jadi paling pintar, tapi tentang berani mencoba walau belum yakin.

Saya sering merasa tidak passion dengan bidang yang saya jalani, tapi saya percaya konsistensi bisa menumbuhkan rasa suka. Saya bukan orang yang banyak bicara, tapi saya banyak berpikir. Saya mencatat, merenung, dan belajar dari setiap kegagalan kecil. Bagi saya, hidup itu proses, dan setiap langkah bahkan yang tersesat tetap berarti.


4.9 8) Service-Fit Map (Tempat Saya Paling Berdampak)

Saya paling dapat berdampak ketika berada di lingkungan yang memungkinkan saya untuk berpikir, merenung, dan memberi makna pada apa yang saya lakukan. Di kampus, khususnya di bidang Sistem dan Teknologi Informasi, saya menemukan ruang untuk belajar memahami masalah dan mencari solusi yang realistis. Saya tidak selalu menjadi yang paling menonjol, tetapi saya berusaha menjadi orang yang konsisten, mau mencoba, dan tidak mudah menyerah. Dalam komunitas dan pertemanan, saya sering berperan sebagai pendengar yang tenang, memberi ruang bagi orang lain untuk berbagi cerita. Dari percakapan sederhana, saya belajar tentang cara berpikir dan perasaan orang lain, yang membuat saya lebih memahami makna empati. Sementara itu, momen refleksi pribadi menjadi bagian penting dari hidup saya—biasanya saya temukan lewat waktu sendirian, sambil ngopi, mendengarkan musik, atau sekadar berdiam diri. Dari situ saya belajar melihat arah hidup dengan lebih jernih dan tenang. Di keluarga dan lingkungan terdekat, saya ingin hadir bukan dengan banyak bicara, tapi dengan perhatian yang nyata. Saya percaya ketenangan dan kehadiran yang tulus bisa memberi pengaruh yang lebih besar daripada kata-kata yang berlebihan.


4.10 9) Evidences (Artefak & Tautan)

Ganti tanda [ ] dengan tautan/berkas Anda.

  • [https://alephcoo.github.io/all-about-me/My_Song_for_You/ ] UTS 2
  • [https://alephcoo.github.io/all-about-me/My_Stories_for_You/ ] UTS 3

4.11 10) Rencana Aksi 90 Hari (SMART)

  1. Menyelesaikan Tugas Besar Jaringan Komputer. Outcome: Tugas besar selesai; Due: T‑1 hari.
  2. Menyelesaikan Tugas Besar OOP. Outcome: Tugas besar selesai; Due: T‑1 hari. —

4.12 11) SHAPE ↔︎ CPMK (Interpersonal & Public Communication)

  • Self‑awareness & refleksi (CPMK‑S): diungkap melalui UTS-3.
  • Empati & komunikasi etis (CPMK‑E): Encouragement → Kerja kelompok.
  • Storytelling & presentasi (CPMK‑P): Creativity → Berpendapat.
  • Kolaborasi & kepemimpinan (CPMK‑K): Leadership → Koordinasi proyek.

4.13 12) Self‑Assessment Rubrik UTS‑4 (isi skormu)

Kriteria Deskripsi Skor (1–5) Bukti
Kelengkapan SHAPE S‑H‑A‑P‑E jelas & terisi
Koherensi Piagam Diri misi‑nilai‑peran konsisten
Narasi 90 detik ringkas, kuat, mengundang aksi
Evidence & Aksi 90 hari tautan bukti & rencana SMART

Total (maks 20): [ ] Tingkat: ☐ A (≥85%) ☐ B (70–84%) ☐ C (60–69%) ☐ D (50–59%) ☐ E (<50%)


4.14 13) Versi Ultra‑Ringkas (≤140 kata)

“Kyan Saktya Diraya, mahasiswa Sistem dan Teknologi Informasi ITB, sedang mencari arah hidup lewat proses belajar dan refleksi. Ia berpegang pada kejujuran, ketekunan, dan kebebasan berpikir. Sebagai pribadi introvert, Kyan lebih suka mendengar dan memahami orang lain, menemukan makna lewat hal kecil seperti musik, kopi, dan waktu sendiri. Ia ingin memberi dampak melalui konsistensi, empati, dan ketenangan. Di kampus dan komunitas, ia berperan sebagai pendengar dan pembelajar yang membantu menciptakan suasana hangat. Bagi Kyan, hidup bukan soal hasil, tapi perjalanan yang jujur dan sabar dalam memahami diri serta orang lain.”

4.15 Piagam Diri — Armein Z. R. Langi

Pernyataan Misi Saya adalah insinyur-pendidik dan penulis yang menyalakan sukacita belajar, menumbuhkan empati, dan merancang sistem cerdas yang memuliakan Tuhan serta meningkatkan kualitas hidup keluarga, kampus, dan komunitas. (Struktur mengikuti kerangka My SHAPE—Piagam Diri 1-halaman. )

S — Signature Strengths (inti kekuatan khas) Refleksi, Ketekunan, Empati, Kejujuran, Loyalitas, Adaptabilitas, Keingintahuan, Ketulusan, Konsistensi, dan Ketenangan. (Kekuatan ini tercermin dari kebiasaan merenung, mendengarkan orang lain, serta terus mencari makna di setiap pengalaman.)

H — Heart (nilai & panggilan) Saya percaya hidup bukan soal siapa yang paling cepat atau paling hebat, tapi siapa yang tetap berjalan meski sedang ragu. Saya mencintai momen-momen tenang, musik, kopi, dan percakapan sederhana yang membawa makna. Nilai utama saya adalah jadi diri sendiri, menjaga ketulusan, dan tetap berproses tanpa terburu-buru. Saya ingin menebarkan suasana yang hangat dan jujur di lingkungan sekitar.

A — Aptitudes & Acquired Skills (bakat & keterampilan kunci) Menulis reflektif, mendengarkan dengan empati, membangun suasana yang nyaman, dan beradaptasi dengan cepat. Saya juga mampu berpikir mendalam, belajar lewat pengalaman, serta mengekspresikan pemikiran lewat tulisan yang jujur dan tenang. (Contoh: narasi pribadi dan refleksi diri dalam tugas-tugas kuliah dan kehidupan sehari-hari.)

P — Personality (gaya kerja yang menonjol) Reflektif-analitis, visioner, pembelajar antusias, kolaboratif, Introvert reflektif, hangat ketika sudah terhubung, berpikir logis tapi peka secara emosional. Saya menghargai kebebasan berpikir, kejujuran, dan kesederhanaan. Dalam bekerja, saya cenderung fokus dan sabar, tapi juga ingin segala sesuatu selesai dengan baik. Saya tidak suka berpura-pura, lebih baik pelan tapi tulus.; berpihak pada keadilan & integritas.

E — Experiences (jejak pembentuk identitas)

Perjalanan hidup berpindah-pindah : lahir di Surakarta, sempat tinggal di Surabaya, kini menetap di Tangerang dan kuliah di Bandung. Perpindahan ini mengajarkan bahwa “rumah” bukan tempat, tapi orang-orang yang membuat hati tenang.

Proses menuju ITB : pernah lalai di SMA, tapi kemudian bangkit dan belajar sungguh-sungguh hingga diterima di ITB lewat SNBP.

Menjadi bagian dari HMIF : belajar bahwa kontribusi kecil juga penting, meski tidak selalu terlihat.

Refleksi pribadi : menemukan makna hidup lewat kesendirian, musik, dan secangkir kopi; memahami bahwa tenang juga bentuk kekuatan.

Janji Praktis (Operating Principles) 1. Empati di atas ego Setiap orang punya cerita dan ritme hidup sendiri. Saya ingin belajar memahami, bukan menghakimi.

  1. Mencari makna, bukan sekadar hasil Hidup bukan tentang kecepatan, tapi arah. Saya ingin terus belajar tanpa kehilangan rasa ingin tahu.

  2. Konsisten dalam proses Walau sering ragu, saya ingin tetap melangkah. Kegigihan lebih penting daripada kesempurnaan.

  3. Tulus dalam tindakan Saya ingin setiap hal yang saya lakukan punya makna dan dilakukan dengan hati yang jujur.

  4. Tenang dalam perjalanan Hidup kadang berisik, tapi saya ingin tetap menemukan kedamaian dalam kesunyian dan refleksi.


4.16 Narasi Diri (versi 90 detik)

Masuk ITB, terutama di STEI-K, bikin saya sadar kalau dunia ini luas banget. Banyak orang yang jauh lebih pintar, lebih rajin, dan lebih tau arah hidupnya. Tapi dari situ saya belajar buat nggak menyerah dan tetap jalan, meski pelan.

Saya orangnya introvert, nggak sabaran, tapi punya loyalitas dan nggak gampang nyerah. Awalnya saya nggak terlalu suka bidang ini, tapi lama-lama saya sadar… semua bisa dipelajari asal dicoba terus. Kadang gagal, kadang bingung, tapi ya gitu hidup emang tentang proses, bukan hasil cepat.

Sekarang saya cuma pengin dikenal sebagai orang yang baik, yang terus belajar dan berusaha memahami diri sendiri dan orang lain. Saya nggak tau pasti arah hidup ke mana, tapi saya yakin selama masih mau nyoba, semua akan nemu jalannya.


4.17 Narasi Diri (versi panjang, 3–5 paragraf)

Masuk ke Sistem dan Teknologi Informasi ITB jadi salah satu titik balik dalam hidup saya. Dulu saya pikir kuliah cuma soal nilai dan tugas, tapi ternyata lebih dari itu, ini tentang memahami diri sendiri di tengah banyak orang yang luar biasa. Di STEI-K saya sadar, selalu ada yang lebih pintar, lebih cepat, dan lebih paham. Tapi bukan berarti saya harus berhenti; justru dari situ saya belajar untuk nggak jumawa, dan terus berusaha dengan cara saya sendiri.

Saya orangnya introvert dan kadang nggak sabaran. Tapi di sisi lain, saya punya sifat pantang menyerah, loyalitas yang kuat, dan dorongan untuk bebas. Saya pengin dikenal bukan karena saya sempurna, tapi karena saya berusaha jadi orang yang baik.

Perjalanan di STI nggak mudah. Jujur, saya sempat merasa salah jurusan. Tapi saya juga percaya, kalau terus dicoba, lama-lama hal yang terasa asing bisa jadi sesuatu yang disukai. Setiap kali gagal, saya coba lagi. Setiap kali ragu, saya belajar untuk tenang. Dari situ saya paham kalau sukses bukan tujuan akhir, tapi hasil dari proses yang nggak berhenti.

Saya percaya hidup itu bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling konsisten untuk tetap melangkah. Sekarang saya lebih banyak refleksi, menikmati ketenangan, dan belajar memahami berbagai cara orang berpikir. Kadang saya pengin sendiri, kadang saya pengin ngobrol dan denger cerita orang lain. Intinya, saya cuma pengin terus tumbuh tanpa kehilangan diri saya sendiri.

Dan kalau ditanya arah hidup ke mana, saya belum tau pasti. Tapi buat sekarang, saya jalanin aja dulu — sambil ngopi, istirahat, terus bangkit lagi. Karena pada akhirnya, hidup cuma tentang itu: terus berjalan, meski belum tau ujungnya di mana.